Bulanku telah kembali
Tanggal dua Februari lalu, hapeku bergetar. Memberitahuku sebuah pesan masuk. Isinya pendek : Apa kabar Bos? Karena nomor pengirim tidak terdaftar, aku cuekin. Gak lama kemudian, nomor tersebut mengirim sebuah pesan lagi. Kali ini dengan pengenal diri : nama dan alamat. Selama satu menit pertama, aku hanya terpana memandang deretan huruf namanya. Serasa gak percaya bahwa dia, setelah belasan tahun menunggu, (akhirnya) menghubungiku.
Dia temen sekelasku (dulu). Berbadan ramping dan tinggi bak peragawati, serta berparas lumayan (gak cantik-cantik amat sih). Tapi pesona terkuat timbul dari kepribadiannya. Supel, ramah dan bijaksana. Tak heran waktu itu dia termasuk salah satu dari lima dara yang paling diburu pria di sekolahku (kusebut pria, karena termasuk beberapa guru diantaranya). Penggemarnya yang begitu banyak dan dari berbagai latar belakang, serta mengingat kondisi kehidupan keluargaku yang pas-pasan, menyebabkan aku terpaksa harus memendam dalam-dalam impian untuk bisa bersanding dengannya. Kuibaratkan diriku seperti si Pungguk merindukan Bulan. Hanya bisa memandang dan memandang dari kejauhan, sambil berusaha mematri sebuah cita : Aku harus bisa (meraihnya).


