Bulanku telah kembali
Tanggal dua Februari lalu, hapeku bergetar. Memberitahuku sebuah pesan masuk. Isinya pendek : Apa kabar Bos? Karena nomor pengirim tidak terdaftar, aku cuekin. Gak lama kemudian, nomor tersebut mengirim sebuah pesan lagi. Kali ini dengan pengenal diri : nama dan alamat. Selama satu menit pertama, aku hanya terpana memandang deretan huruf namanya. Serasa gak percaya bahwa dia, setelah belasan tahun menunggu, (akhirnya) menghubungiku.
Dia temen sekelasku (dulu). Berbadan ramping dan tinggi bak peragawati, serta berparas lumayan (gak cantik-cantik amat sih). Tapi pesona terkuat timbul dari kepribadiannya. Supel, ramah dan bijaksana. Tak heran waktu itu dia termasuk salah satu dari lima dara yang paling diburu pria di sekolahku (kusebut pria, karena termasuk beberapa guru diantaranya). Penggemarnya yang begitu banyak dan dari berbagai latar belakang, serta mengingat kondisi kehidupan keluargaku yang pas-pasan, menyebabkan aku terpaksa harus memendam dalam-dalam impian untuk bisa bersanding dengannya. Kuibaratkan diriku seperti si Pungguk merindukan Bulan. Hanya bisa memandang dan memandang dari kejauhan, sambil berusaha mematri sebuah cita : Aku harus bisa (meraihnya).
Secara fisik, aku memang dekat dengannya. Dengan prestasi akademisku yang lumayan, aku bisa mengakses dan bergabung dengan kelompoknya. Namun secara emosi, tentusaja tidak bisa lebih dari sekedar sahabat. Sahabat kental, karena aku dan dia sama-sama suka curhat. Menyelesaikan masalah pribadi bersama, atau hanya sekedar berdiskusi. Itu saja, tidak lebih.
Lalu yang kutakutkan akhirnya harus kuhadapi : pengumuman kelulusan, yang artinya perpisahan (dengannya). Sedih sih, tapi mau gimana lagi. Life must go on.
Beberapa tahun kemudian, aku mencoba membangun kontak dengannya. Walau hanya melalui selembar kertas surat, yang alhamdulillaah, selalu dia balas (maklumlah, waktu itu blom ada hape). Tapi yang paling berkesan adalah surat terakhirnya. Aku ingat, seminggu sebelum kuterima surat itu (medio 1994), aku bermimpi bertemu dengannya. Dengan nada riang dia mengatakan bahwa dia ingin memberikan sesuatu padaku dari hasil keringatnya sendiri. Percaya ndak? Begitu suratnya kuterima dan kubuka, sebuah cincin bermotif rangkaian hati ada di dalamnya. Dan yang lebih mengagetkanku adalah rangkaian kalimat dalam satu paragraf suratnya sama persis dengan yang dia katakan dalam mimpiku. Hmm….. Sepertinya, hidup yang kuhadapi tidak sesuram yang kubayangkan……
Hingga pada suatu malam, aku kaget terbangun dari tidur. Aku bermimpi ketemu dia dalam keadaan yang kurang menyenangkan, suram, sedih, putus asa, plus air mata yang menitik di kelopak matanya. Kutanyakan padanya apa yang terjadi. Dia hanya bisa mengatakan satu kalimat : Aku dijodohkan oleh orang tuaku, tapi aku ndak mau. Walaaaah……!!!
Beberapa bulan kemudian, aku berkesempatan pulkam. Setelah menyelesaikan urusan di Bogor, sebelum aku pulang ke rumah, aku menyempatkan diri singgah di rumahnya. Dan suer, itu termasuk momen terindah dalam hidupku. Memiliki kesempatan memandangi wajahnya, tentusaja dalam konteks yang sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Hanyasaja, keindahan itu harus meredup saat dia mengatakan ”Aku sudah dijodohkan oleh orang tua”. Aku tidak kaget, dan hanya bisa berkata : ”Ya, aku sudah tahu”. Hingga saat ini, aku belum pernah memberitahu padanya bahwa aku tahu hal perjodohannya itu dari mimpi. Biarlah itu menjadi kenangan pribadiku.
Tahun demi tahun berlalu, seiring dengan perkembangan teknologi, hape dan internet mulai mewabah. Melalui media itu pula kucoba melacak kembali keberadaannya. Kukontak teman-teman, kucari di Search Engine (Yahoo, Google), di social network (MBL, Facebook, Twitter, Friendster), hasilnya nihil. Kucari secara berkala tiap enam bulan (atau kalo lagi inget), hasilnya tetap nihil. Keberadaannya bagai jarum penthul di hamparan sawah. Bulanku, dimana kamu ?
Dan, penantianku berakhir pada hari itu, 2 Februari 2011. Saat tiba-tiba, ndak ada angin ndak ada petir, dia menghubungiku. Begitu lega hati kurasa. Walau impian yang dulu pernah kupatri tetap tak (akan pernah) tergapai, tapi setidaknya aku sudah tahu kabarnya sekarang. Dan itu sudah cukup bagiku.
Bulanku, aku begitu bersyukur diberi kesempatan untuk mengetahui kabarmu. Setidaknya setitik beban telah berkurang dari isi kepalaku. Walaupun kita berdua sama-sama tidak sendiri lagi, tapi aku tetap berharap kita masih bersahabat. Suatu saat, akan kukenalkan kamu dengan istriku. Dan aku juga berharap suatu saat aku bisa berkenalan dengan suamimu (walau galak sekalipun). Dan, terakhir, terimakasih kamu sempat hadir dan mewarnai hidupku.



Ndesit kalau di tempatku kalau nggak salah “ndeso” atao kampungan
He he he, tks
weh… ndesit….
Masa lalu memang indah. Kadang kita lupa bahwa masa itu pernah kita lalui.
Btw, ndesit itu artinya apa bang Slamet ?