Biar Goblog Asal Go Blog

Cathetane inyong

Ternyata tidak gampang jadi guru


Awal bulan lalu, kami kedatangan tamu, seorang pengajar (guru) dari salahsatu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri. Beliau menyampaikan maksud kedatangannya, bahwa dalam rangka memenuhi jadwal kurikulum dan standar kompetensi, beliau bermaksud “menitipkan” beberapa orang siswanya untuk mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di kantor kami.

Awalnya, peserta hanya tiga orang, hanyasaja, seminggu kemudian tambah satu orang lagi. Mereka adalah siswa SMK kelas XII jurusan Survey dan Pemetaan, praktis dan otomatis, mereka menjadi tanggunganku.

Aku sedikit bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Aku tidak memiliki pengalaman yang cukup dalam mengajar (soalnya, selama ini aku kan diajari terus). Aku mencoba membayangkan jika aku menjadi seorang guru. Dalam bayanganku, guru itu ya duduk di depan kelas, membacakan materi (dari buku pelajaran – yang sudah disusun orang lain), ngoceh sedikit, kasih catatan, kasih pe-er, minum teh, lalu pulang (plus, dua tahun sekali naik pangkat). Selesai sudah. Tapi, apakah se-simpel itu ?

Interview (bukan with vampire, tapi with Paniki…)

Wawancara awal, aku menanyakan apa saja yang telah mereka pelajari di sekolah. Umumnya, mereka hanya bisa menjawab “menggunakan alat ukur theodolite” tanpa dapat memberikan gambaran lebih lanjut termasuk metoda pemetaan, pengolahan data dan berbagai disiplin ilmu yang terkait dengannya. Bahkan rumus dasar trigonometri-pun, mereka tidak bisa menjelaskan walau dengan bahasa mereka sendiri. Padahal, trigonometri adalah jantungnya pengukuran sudut.

Dalam hal desktop mapping, mereka memberikan jawaban bahwa sementara ini, mereka sudah diajari AutoCAD. Tapi, secuil harapanku langsung lenyap, menghadapi kenyataan bahwa 2 dari 4 orang siswa tersebut masih gaptek (mereka belum paham struktur direktori Windows). Sehingga untuk pekerjaan dasar file management (cut, copy, paste, move, delete) –pun harus dipandu.

Berburu bahan ajar

Penasaran, aku mencoba mencari buku-buku pelajaran untuk SMK. (Ternyata banyak juga link-nya. Satu diantaranya adalah di Undip). Disitu aku mengunduh Teknik Survey dan Pemetaan. Isinya ? Wah, aku sendiri puyeng. Ternyata standar kompetensi untuk mata pelajaran ini begitu tinggi.

Disamping sumber tersebut di atas, aku juga banyak mengambil sumber dari :
1. Makalah-makalah/presentasi karya Dr. Hasanuddin Z. Abidin
2. http://www.its.ac.id/
3. http://theodolit.blogspot.com
4. http://geomaticsandsurveying.blogspot.com
5. http://en.wikipedia.org
6. http://id.wikipedia.org
7. http://geovisi.com
8. dll.

Menyusun bahan ajar

Aku tidak membuat materi khusus untuk teknik pengukuran sudut (vertikal maupun horizontal) beserta peralatannya, karena sudah diulas dalam buku pelajaran mereka. Yang kususun hanyalah materi yang berkaitan dengan GPS (bisa diunduh disini) karena, menurut pengakuan mereka, materi tersebut belum pernah diajarkan di sekolah.

Apa yang kuhadapi ? (Hambatan serius dalam mengajar)

  1. Kedisiplinan. Umumnya, para siswa suka datang terlambat. Beberapa diantaranya malah suka membolos.
  2. Daya ingat. Sebagian dari mereka tidak bisa menjelaskan kembali pelajaran yang sudah diberikan sehari sebelumnya.
  3. Bilangan metrik. Tiga dari empat siswa mengalami kesulitan dalam konversi satuan panjang dalam bilangan metrik (mm, cm, m, km). Satu diantaranya bahkan tidak bisa/tidak paham sama sekali.
  4. Keruangan. Dua dari empat siswa tidak paham konsep ruang. Sehingga mengalami kesulitan dalam memahami teori-teori pengukuran sudut (vertikal dan horizontal).
  5. Iptek. Dari 4 orang siswa, tidak ada satupun yang memiliki komputer di rumahnya. Dua orang diantaranya tidak begitu familiar dengan dunia komputer (software maupun hardware).

Yang (cukup) menggembirakan

Nilai hasil ujian praktek lebih tinggi dari nilai ujian teori. Artinya, para siswa lebih menyukai (lebih menguasai) hal-hal yang langsung di-praktek-kan (learning by doing). Aku pikir, ini wajar, karena umumnya orang suka mengantuk dalam pelajaran teori.

Akhirnya….

Aku menyadari bahwa ternyata jadi guru itu tidak semudah yang dibayangkan. Persiapan yang menunjang kegiatan belajar-mengajar, ternyata begitu panjang dan melelahkan (setidaknya, aku harus menyisihkan sebagian sumberdaya (termasuk finansial) untuk membuat materi, soal dan memeriksa hasil ujian).

Tantangan terbesar yang aku hadapi adalah pengendalian emosi (mungkin aku harus belajar anger management?). Coba bayangkan. Aku sudah mengerahkan sumber daya (waktu, tenaga, pikiran, biaya) yang dapat kusisihkan agar mereka (para siswa) bisa paham dan pinter, ternyata masih ada satu orang yang tidak bisa menjawab pertanyaan : 1 (satu) meter sama dengan berapa centimeter ?

Waaakk…….

11/12/2009 - Posted by | Catatan | , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: