Biar Goblog Asal Go Blog

Cathetane inyong

Salah satu sisi negatif Facebook


Minggu lalu, aku melakukan perjalanan dinas ke daerah Buli – Kabupaten Halmahera Timur. Perjalanan tugas ke wilayah tersebut, biasanya kutempuh melalui jalan darat. Disamping pertimbangan biaya, juga, setidaknya, di jalur tersebut aku bisa mencicipi rasanya naik mobil mewah (maklum, gajiku gak cukup untuk beli mobil – selain mobil2an). Bayangkan, pada jalur tersebut, mobil mahal seperti Land Cruiser, Fortuner, Ford (aku gak tahu typenya), Strada (termasuk Triton) dll., memiliki plat nomor berwarna Kuning alias jadi angkutan umum !

Namun, seiring berkembangnya perekonomian di kabupaten tersebut yang terutama ditopang sektor pertambangan dan pertanian, menyebabkan beberapa maskapai penerbangan mulai melirik jalur tersebut. Perang harga antar maskapai menyebabkan harga tiket mulai terjangkau (olehku, terutama). Bahkan, dalam beberapa kondisi, lebih murah dibandingkan perjalanan lewat jalur darat. Jadi, itulah yang kutempuh dalam perjalanan dinas kali itu.

Tidak ada yang istimewa dalam penerbangan singkat tersebut (sekitar 30an menit). Bahkan kecantikan pramugari (Express Air) – pun, tidak bisa menahan mataku dari ngantuk yang menyerang. Jadi, begitu lepas landas dan pesawat mulai stabil, aku mencoba mengusir rasa ngantuk dengan membaca brosur-brosur panduan keselamatan penerbangan yang tersimpan di sandaran kursi. Sampai akhirnya aku mendapati majalah bulanan Express Flight edisi Januari – Februari 2010.

Diantara puluhan artikel didalamnya, terdapat sebuah artikel yang mengulas efek negatif dari jejaring sosial Facebook. Disitu diceritakan perjalanan batin seorang pekerja kantoran yang tiba-tiba menjadi tertutup, murung dan lebih suka mengurung diri dalam ruangan bersama laptopnya, setelah beberapa bulan menjadi Facebooker. Di sisi lain, dia merasa semakin jauh dari teman-temannya. Tidak ada lagi tegur sapa, diskusi face to face, atau santai bersama di café.

Suatu hari, dia agak bersemangat. Pasalnya, seorang teman sesama Facebooker mengundangnya bergabung dalam suatu forum diskusi. Tapi semangatnya langsung luntur kembali begitu mengetahui bahwa diskusi tersebut berlangsung secara on line ! Artinya, dia akan tetap berada di gua pertapaannya selama diskusi berlangsung.

Setelah melalui perang batin yang cukup panjang, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke teman-teman “fisik“-nya. Jadi, sore itu dia berjalan kaki ke cafe tempat dia biasanya berkumpul dengan teman-temannya. Begitu masuk, mereka menyambutnya dengan sumringah dan berseru : “Hei look. He’s back !“

Dari kisah tersebut, aku jadi berpikir. Apa iya efeknya sampai sedemikian parah ?

(bersambung ….. )

10/02/2010 - Posted by | Catatan | ,

3 Comments »

  1. […] berhubungan kembali, setelah lebih dari 20 tahun berpisah, dengan teman SD-ku. Dan, maaf (aku jadi malu sendiri), itu berkat kebaikan hati facebook. Ya, hasil pencarian di facebook-lah yang membawanya ke […]

    Pingback by Senyum pertamaku dengan facebook « Biar Goblog Asal Go Blog | 25/02/2011 | Reply

  2. […] sudah tergambar dari artikel ini dan atau ini, ternyata masih ada aspek negatif dari jejaring sosial ini yang berpengaruh secara tak […]

    Pingback by Salahsatu sisi negatif Facebook – Bag2 « Biar Goblog Asal Go Blog | 19/11/2010 | Reply

  3. Emang ada benarnya bro…kadang kami ngumpul sekedar karaoke ato makan2 eh ada tuh salah satu temen yang selalu OL di HPnya n kayaknya dunia sekeliling tidak lebih mengasikkan dibanding dunia dalam genggamannya yang bernama Blackbery itu.Aku juga heran yah…kok ada kawan yang tadinya normal jadi berubah Autis setelah kenal facebook.

    Tapi bro itu hanya satu dari seribu orang (kali??). Yang jelas kita yang (merasa)punya wawasan seyogyanya salalu wake up bahwa perubahan pasti terjadi dan kita jangan sampai jalan ditempat hanya karena selalu melihat segala sesuatu dari sisi negatif.

    Yang jelas aku ketemu kawan2 lama n juga selalu bisa melihat perkembangan keluargaku nun jauh di sono dak terlepas dari jasa jejaring sosial Facebook.

    Bagaimana bro??? semoga anak2 kita selalu berjalan sesuai zamannya dan kita siap mengiringinya dengan baik. Moga sukses……………..

    >>>kalongsgs says :
    Wah, makasih bro, sudah mampir🙂
    Tadinya, contoh-contoh kasus seperti yang sampeyan sampeken, akan ku-ulas dalam sambungan postingan ini. Karena sudah tersampaikan, kayaknya aku ndak perlu membuat postingan sambungan ya …..
    Tapi memang gejala yang timbul akhir2 ini seperti itu kan. Banyak orang yang secara fisik berada di tempat umum (seperti halte, stasiun, pelabuhan, bandara, cafe, bioskop dll), tapi tidak lagi memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Mereka hanya asyik sendiri mlototi layar LCD handheld-nya. Artinya, pesbuk yang dimaksudkan sebagai wahana menjalin jejaring sosial ternyata malah memberikan hasil yang (kadang) kontra produktif. Yah, salahsatunya seperti yang sudah diulas disini.

    Comment by Romy sobatmu | 19/02/2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: