Biar Goblog Asal Go Blog

Cathetane inyong

Labelling kilat dengan extension Text to shape


Setiap kali kita membuat peta, kita harus mengatur label (baik letak, jenis font, ukuran font maupun warna) agar bisa tampil cantik dan informatif saat dicetak. Label yang terlalu rapat dan atau besar, disamping tidak sedap dipandang, juga bisa menutup object peta yang seharusnya jadi sajian utama. Yang pada akhirnya membuat peta tersebut menjadi tidak informatik.

Mengatur label (labelling) jelas membutuhkan jiwa seni dan kesabaran. Jadi, bayangkan berapa waktu dan tenaga yang tersita untuk mengatur ratusan teks di setiap layar view anda. Itulah sebabnya mengapa labelling termasuk pekerjaan yang melelahkan, dan yang pasti, membosankan. Lalu, adakah cara labelling yang lebih cepat (kalau bisa, kurang dari 3 menit) dengan hasil yang persis seperti yang kita inginkan ?

Salahsatu cara yang dapat ditempuh adalah dengan memanfaatkan extension Text to shape. Konsep dasarnya, label (text) yang ada di layar view dikonvert menjadi shape file, sehingga dapat digunakan di view atau project lain.

Adalah benar bahwa setiap shape file memiliki data tabular yang dapat ditampilkan sebagai label dalam waktu sekejap. Tapi harus diingat bahwa labelling tersebut menggunakan pengaturan default seperti yang disediakan ArcView dalam Legend Editor dan Theme Properties. Namun untuk memberikan hasil terbaik, pengaturan lebih lanjut (manual) tetap karus kita lakukan terutama menyangkut tata letaknya. Disamping itu, label tsb hanya bisa digunakan di view aktif dalam project dimana label dibuat. Sedangkan untuk view/project lain, kita karus membuatnya lagi dari awal. Nah, dengan extension Text to shape, kita bisa menghindari pengaturan label berulang-ulang.

Berikut adalah contoh langkah-langkah pembuatannya.

Persiapan

1. Buatlah project dan view baru seperti biasa.

2. Tambahkan theme(s) yang diperlukan, misalnya pulau, areal perkebunan, areal transmigrasi, areal pertambangan, areal pemukiman, jaringan jalan, sungai, batas administrasi pemerintahan dll.

3. Untuk memudahkan pekerjaan, atur tampilan masing-masing theme menggunakan Legend Editor dengan double click pada nama theme ybs.

4. Aturlah skala view, set ke 1 : 250.000 (misalnya). Sebagai catatan, sebelum anda melakukan labelling, anda harus menentukan terlebih dahulu angka skala peta (view), karena tampilan label akan dipengaruhi oleh skalanya.

5. Dari menu File – Extension, aktifkan (beri check mark) pada Text to shape. Aktifkan juga extension lain yang anda perlukan.

6. Dari menu Window – Show Symbol Window, aturlah simbologi default yang akan diterapkan kemudian. Khusus di Font Palette, tentukan (misalnya) font Arial, Size 8.0 dan Style Normal.

7. Pilih theme titik Desa, lalu beri label theme tsb. dari menu Theme – Auto Label.

8. Aturlah kembali letak seluruh label Desa tsb sehingga tidak bertumpuk dan enak dipandang. Dalam hal label bertumpuk (karena terlalu rapat), lakukan penyederhanaan dengan menghapus sebagian label yang dinilai kurang penting.

9. Atur Font Palette seperti pada Step 6, tentukan font Arial, Size 8.0 dan Style Italic. Klik Color Palette dan tentukan warna text Biru.

10. Pilih theme garis Sungai, lalu beri label theme tsb. dari menu Theme – Auto Label seperti pada Step 7.

11. Aturlah kembali letak seluruh label Sungai tsb sehingga enak dipandang. Double klick pada salahsatu label sungai untuk menampilkan jendela Text Properties dan atur angka Rotation Angle sehingga sejajar dengan garis sungai.

12. Selanjutnya, buat dan aturlah label untuk theme-theme lain dengan tampilan sesuai dengan selera anda, misalnya :
a. Theme nama tanjung : Arial, 8, Normal, Hitam.
b. Theme nama pulau kecil : Arial, 9, Normal, Hitam.
c. Theme nama teluk/selat kecil : Arial, 10, Bold Italic, Biru.
d. Theme nama teluk/selat besar : Arial, 12, Bold Italic, Biru.
e. Dll.

13. Periksa kembali seluruh label dalam view anda. Jika dirasa sudah sesuai dengan selera anda atau sesuai dengan standar labelling (jika ada peraturannya), maka anda sudah siap untuk melakukan konversi text ke shape file.

Konversi Text ke Shape File

14. Untuk meng-konversi text menjadi shape file, anda harus memilih seluruh text yang akan di-konvert. Caranya, klik icon Pointer (icon panah hitam) lalu klik and drag di layar view anda, seluruh text yang ada dalam blok akan terpilih (ditandai dengan 4 titik hitam di sekeliling masing-masing text).

15. Jika anda memiliki view dengan cakupan luas (misalnya seluruh provinsi) yang tidak dapat ditampilkan seluruhnya dalam view, maka anda harus melakukan zoom out terlebih dahulu. Cara termudah adalah dengan mengaktifkan nama theme terluas, misalnya Pulau.shp, lalu klik icon Zoom to Active Theme(s). Peta akan mengecil dan seluruh pulau (beserta labelnya) akan tampil di layar view. Blok seluruh text dengan cara seperti Step 14. Jika seluruh text sudah terpilih, jangan lupa mengembalikan view ke posisi (skala) awal (1:250.000) dengan klik (1x) icon Zoom to Previous Extent.

16. Jika seluruh text sudah terpilih, klik menu Graphics – Save labels as shapefile.

17. Anda akan dibawa ke jendela output. Tentukan direktori dan nama file (.shp) hasil konversi dan klik OK untuk menyimpannya.
Sekedar saran, beri nama shapefile tersebut sesuai dengan skala saat label dibuat, dalam contoh ini, maka shapefile diberi nama Label_250.shp karena dibuat pada view skala 1 : 250.000. Ini berguna untuk membedakan dengan shapefile label pada skala lain (misalnya 100.000, 500.000 dll) yang harus anda buat tersendiri.

18. Hasil konversi berupa shapefile type line/polyline yang otomatis akan ditambahkan sebagai theme baru dalam view anda.

19. Pilih/aktifkan theme hasil (Label_250.shp) dan klik icon Open Theme Label untuk membuka data tabularnya. Disitu terlihat ada 4 field (kolom) data : Shape, Text, Graphic Id dan Group Id. Sekarang, klik menu Table – Start Editing untuk memodifikasi tabel.

20. Klik menu Edit – Add Field untuk menambahkan field/kolom. Di jendela Field Definition, isi Name : Kategori, Type : String dan Width : 25, lalu klik OK.

21. Isi tiap baris dalam kolom Kategori sesuai dengan klasifikasi text dalam kolom Text. Klasifikasi ditentukan berdasarkan kesamaan pengaturan label dalam Step 6 s/d 12. Dalam contoh ini, text diklasifikasikan dalam 5 kategori yaitu Desa/Tanjung, Teluk Kecil, Teluk Besar, Pulau Kecil dan Pulau Besar.
Dalam contoh ini, label nama desa dan nama tanjung dijadikan satu kategori karena memiliki pengaturan yang sama yaitu : Arial, 8, Normal dan Hitam. Sedangkan untuk text lainnya diklasifikasikan berbeda karena memiliki pengaturan yang berbeda sebagaimana telah dilakukan pada Step 6 s/d 12.

22. Jika sudah selesai mengisi tiap baris dalam kolom Kategori, klik menu Table – Stop Editing lalu klik Yes untuk menyimpan.

23. Tutup tabel, dan selesailah pekerjaan anda dalam membuat dan meng-konversi text menjadi shapefile. Selanjutnya, shapefile tsb dapat anda gunakan di project-project yang lain.

24. Ulangi proses dari Step 4 s/d 22 untuk view skala lain (misalnya 50.000, 100.000, 500.000, dll). Sehingga pada Step 17, anda beri nama shapefile hasilnya sesuai dengan skala yang digunakan saat membuat yaitu Label_50.shp, Label_100.shp, Label_500.shp dll.

Penggunaan

25. Buatlah project dan view baru atau buka project yang sudah ada.

26. Tambahkan theme(s) yang diperlukan, misalnya pulau, areal perkebunan, areal transmigrasi, areal pertambangan, areal pemukiman, jaringan jalan, sungai, batas adm. pemerintahan dll.

27. Misalnya, kita akan membuat peta berskala 1 : 250.000 aturlah skala view, set ke 1 : 250.000, atau jika anda membuka project yang sudah ada dimana view-nya berskala 1 : 250.000, maka tambahkan theme Label_250.shp hasil konversi tadi. (untuk skala lain, sesuaikan saja).

28. Untuk membuat label nama Teluk Kecil, aktifkan theme Label_250.shp dan klik icon Open Theme Label untuk membuka data tabularnya.

29. Aktifkan (klik) kolom Kategori, lalu klik icon Query Builder (icon bergambar palu). Di jendela Attributes of Labels, double klick [Kategori] di jendela Fields, double click di icon Samadengan, lalu di kolom Values double click “Teluk Kecil”. Terahir, klik tombol New Set, dan semua records dalam kolom Kategori yang berisi Teluk Kecil akan terpilih dan berwarna kuning.

30. Kembali ke layar view dengan menutup jendela Attributes of Label dan tabel Attributes of Label_250.shp.

31. Dari menu Window – Show Symbol Window, aturlah simbologi text menjadi Arial, 10, Bold Italic, Biru (seperti pada Step 6).

32. Dengan theme Label_250.shp masih aktif/terpilih, beri label theme tsb. dari menu Theme – Auto Label (seperti pada Step 7). Maka label Teluk Kecil akan tampil di layar.

33. Ulangi Step 28 s/d 32 untuk membuat label Desa/Tanjung, Pulau Besar, Pulau Kecil dll. Tentusaja dengan penyesuaian font, font size dll pada Step 31.

34. Jika semua label sudah terpasang, buka Legend Editor dan robahlah tampilan theme Label_250.shp menjadi tidak berwarna dengan memilih palet warna putih bersilang hitam di pojok kiri atas.

35. Selesai. Hasilnya, saya yakin sama persis dengan label yang dibuat pada Step 6 s/d 12.

Walaupun tergantung pada banyaknya klasifikasi pada Step 21 dan kecepatan anda main mouse, namun biasanya proses labelling dengan cara ini hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 menit. Bandingkan jika anda menempuh cara yang biasa, waktu anda akan tersita 3 s/d 6 jam untuk menyelesaikannya.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Itulah gambaran tepat untuk extension Text to shape ini. Anda hanya bersusah payah satu kali saat membuat labelling pertama, selanjutnya tinggal pakai saja di project manapun (tentusaja dengan theme(s) dan skala yang sama).

Catatan akhir : seperti shapefile pada umumnya, shapefile hasil konversi ini juga dapat dimodifikasi/di-edit baik data vector maupun tabularnya. Asyik kaan….

CMIIW.

28/05/2011 - Posted by | Tips and Trick | , , , , , , , , , , ,

5 Comments »

  1. tutorialnya bagus mas, kalau boleh tahu extension Text to shape ini sudah ada di dalam Arcgis atau kita harus mendownloadnya ? kalau harus mendownload bisa berikan linknya? Thks

    Comment by Ichad | 19/03/2016 | Reply

    • @mas Ichad: Maaf mas, artikel tsb membahas labelling di ArcView 3x. Utk ArcGis setau saya sudah ada di tool box cari fitur yg berkaitan dg annotation. Demikian, terimakasih atas kunjungan Anda🙂
      U.H.

      Comment by kalongsgs | 19/03/2016 | Reply

  2. mantap

    Comment by maulana | 22/03/2013 | Reply

    • @Maulana: Terimakasih sdh berkunjung🙂
      Powered by Telkomsel BlackBerry®

      Comment by kalongsgs | 22/03/2013 | Reply

  3. Tutor labelling cepat di lingkungan ArcGIS ada di http://www.gistutorial.net/software/arcgis-software/arcgis-pelabelan-lebih-lanjut-dengan-arcgis.html

    Comment by kalongsgs | 07/06/2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: